Saturday, March 21, 2020

NASKAH PUBLIKASI KEPERAWATAN DIABETES MELITUS


PENGELOLAAN KEPERAWATAN KETIDAKEFEKTIFAN PERFUSI JARINGAN PERIFER DENGAN DIABETES MELITUS DI RSUD KARDINAH TEGAL

Eka Alfinita M*) ; Tinah Purwaningsih ; Fatchurrozak
Jurusan Keperawatan ; Poltekkes Kemenkes Semarang
Jl.Tirto Agung ; Pedalangan ; Banyumanik ; Semarang

Abstrak
Diabetes merupakan suatu penyakit degeneratif dan salah satu penyakit tidak menular dengan jumlah pasien yang meningkat setiap tahunnya dan 50% penderita diabetes diantaranya mengalami gangguan perfusi jaringan, yaitu kondisi apabila terjadi resistensi insulin akibat dari kurangnya aktivitas fisik sehingga sirkulasi darah perifer terganggu.
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengelolaan keperawatan ketidakefektifan perfusi jaringan perifer pada pasien dengan Diabetes Melitus di RSUD Kardinah Tegal.
Rancangan penelitan yang digunakan adalah studi kasus dengan metoda penulisan deskriptif. Teknik pengambilan partisipan dilakukan dengan cara convenience sampling method (nonprobability sampling technique), dimana subjek dipilih karena kemudahan / keinginan penulis.

Kata kunci : Diabetes Melitus, Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer


MANAGEMENT OF NURSING INEFFECTIVE PERFUSION OF THE PERIPHERAL TISSUE WITH DIABETES MELITUS IN KARDINAH TEGAL HOSPITAL
Abstract

Diabetes is a degenerative disease and one not communicable disease with the number of patients that is increasing each year and 50% of all diabetes sufferers have a tissue perfusion disorder, a condition in which insulin resistance occurs from lack  of physical activity to obstruct peripheral blood circulation.
This research aims to describing management of nursing inefective perfusion of the peripheral tissue on a patient with diabetes melitus at RSUD Kardinah Tegal
Research design used descriptive method. Technique in participant taking used convenience sampling method (non-probability sampling technique) that was chosen by the researcher, because of convenience and the desire of the researcher.
The result of the study during three days, it can be seen that both patients increase nursing problem ineffective perfusion of the peripheral tissue a/w decrease in blood circulation to the peripheral. It was marked with tingling, cramps, feeling suffocation, element sunder the dried leather turgor, appear to be callus, and cracked. After the evaluation during three days, the result about first patient’s problem had beensolved by normal blood sugar levels, CRT <3 second and vital sign was normal. Where as on second patient’s problem remained unresolved with high blood sugar, abrasions, nosensorystimulation, and CRT >3 second.

Keywords: Diabetes melitus, ineffective perfusion of the peripheral tissue

PENDAHULUAN

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit degeneratif dan salah satu penyakit tidak menular dengan jumlah pasien yang meningkat. Berdasarkan data Internasional Diabetes Federation (IDF) (2015) terdapat 415 juta penduduk di dunia yang menyandang DM dan diprediksi tahun 2040  mendatang akan meningkat menjadi 642 juta jiwa atau 55% dari jumlah penduduk di dunia tahun 2015. Sedangkan prevelensi DM tahun 2015 di Indonesia yaitu sekitar 10 juta jiwa sehingga dari hasil survey tersebut menempatkan Indonesia berada di peringkat ke-7 dari 10 negara dengan penyandang DM terbesar diseluruh dunia.
Prevalensi untuk Provinsi Jawa Tengah sebesar (1,9%) (Kemenkes RI, 2014). Jumlah kasus DM tipe 2 di Jawa Tengah tahun 2015 sebanyak 99.646 kasus. Hal ini berbeda dengan tiga tahun sebelumnya. Pada tahun 2014 kasus diabetes melitus tipe 2 sebanyak 96.431 kasus (0,29%). Pada tahun 2013 kasus diabetes mellitus tipe 2 di Jawa Tengah yaitu sebesar 142.925 (0,43%) kasus, sedangkan pada tahun 2012 sebesar 181.543 (0,55%) kasus. 
Dari keseluruhan kasus DM Tipe 2 di Kota Tegal, proporsi kasus terbesar (37,4%) berasal dari pasien RSUD Kardinah Kota Tegal. DM Tipe 2 menjadi penyakit dengan jumlah kunjungan tertinggi selama 2012-2014 di RSUD Kardinah. Insiden kasus DM Tipe 2 juga meningkat 13,57% pada tahun 2014 dibanding tahun sebelumnya.
Menurut LeMone, Karen & Gerene (2016) komplikasi dari DM dapat mengakibatkan perubahan pada sistem saraf perifer. Hal itu dapat terjadi  perubahan vaskular di ekstremitas bawah pada penyandang DM yang dapat mengakibatkan terjadinya arterosklerosis sehingga terjadi komplikasi yang mengenai kaki yang menyebabkan tingginya insidensi amputasi pada pasien DM.
Penurunan suplai darah ditandai dengan terjadinya hipoksia jaringan, dimana kondisi jaringan kekurangan oksigen pada jaringan vaskuler dan seluler (Arwani, 2014). Keterbatasan jumlah insulin pada DM mengakibatkan kadar gula dalam darah meningkat, hal ini menyebabkan rusaknya pembuluh darah, saraf, dan struktur internal lainnya sehingga pasokan darah perifer (kaki dan tangan) semakin terhambat, akibatnya pasien DM akan mengalami gangguan sirkulasi darah pada kaki (Nasution, 2010).
Perfusi yang baik ditandai dengan adanya waktu pengisian kapiler (capillary refill time/CRT) dan juga didukung saturasi oksigen yang normal (Nuh, 2010). Kerusakan pada saraf perifer yang mengakibatkan gejala kesemutan, mati rasa, atau kelemahan, pada kaki dan tangan, yang menjangkit sampai dengan 50% dari penderita DM tipe 2 (AMERICAN Diabetes association, 2013 dalam (Harmaya, Sukawana, & Lestari 2014)). Kondisi ini disebabkan karena terjadinya resistensi insulin akibat dari kurangnya aktivitas fisik sehingga sirkulasi darah perifer terganggu (Fatimah, 2015).
Masalah ketidakefektifan perfusi jaringan perifer dapat diatasi dengan terapi farmakologis dan terapi non farmakologis. Pengelolaan terapi farmakologis yaitu pemberian insulin dan obat hipoglikemik oral. Sedangkan non farmakologis meliputi pengendalian berat badan, diet, dan latihan jasmani.
Dari uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan Pengelolaan Keperawatan Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer pada pasien dengan Diabetes Melitus di Ruang Lavender Atas Wanita RSUD Kardinah Kota Tegal.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, evaluasi asuhan keperawatan pada  kedua klien diabetes melitus dengan masalah keperawatan  Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer.
METODE PENELITIAN
Pengambilan kasus ini menggunakan rancangan studi kasus dengan metode penelitian deskriptif. Subyek penelitian adalah pasien Diabetes Melitus dengan masalah Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer yang dirawat di ruang Lavender Atas Wanita RSUD Kardinah Tegal. Pengkajian dilakukan pada 2 pasien yang sudah menyetujui untuk dilakukan studi kasus. Teknik pengambilan pasien dilakukan dengan cara convenience sampling method (nonprobability sampling technique) dimana subjek dipilih karena kemudahan keinginan penulis. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi asuhan keperawatan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Penelitian
Studi kasus dilakukan di Ruang Lavender Atas Wanita bagian ruang penyakit dalam RSUD Kardinah Kota Tegal berlokasi di jalan KS Tubun No.4, Kejambon, Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah. Ruang Lavender Atas Wanita merupakan pelayanan khusus kelas III, yang terdiri dari 3 ruangan setiap ruangan terdiri dari 8 tempat tidur.
RSUD Kardinah terdiri dari beberapa ruang rawat inap, yaitu ruang rawat intensif, VVIP,VIP, kelas I, kelas II, dan kelas III. Selain itu RSUD Kardinah dilengkapi dengan Instalasi Radiologi, Cateterisasi Jantung, MRI & CT-SCAN, Instalasi Laboratorium, Instalasi Bank Darah, Instalasi HD, Instalasi Bedah Sentral, CSSD, Apotek, Kantin.
Pengkajian dilakukan berdasarkan  dua unsur yaitu secara subjektif dan objektif. Pengkajian subjektif dilakukan untuk mengetahui identitas, riwayat kesehatan, dan pola fungsi kesehatan pada partisipan. Sedangkan pengkajian objektif berupa pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik, dan pemeriksaan penunjang lainnya.
Pada pengkajian perfusi jaringan perifer dilakukan dengan pemeriksaan fungsi neurologis yang meliputi pemeriksaan fungsi saraf otonom dan sensorik yang dilakukan baik melalui inspeksi maupun pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan fungsi saraf otonom dilakukan dengan inspeksi pada kaki untuk melihat adanya kulit kering (bersisik), kulit kaki pecah-pecah, callus, dan deformitas. Pada pemeriksaan fungsi sensorik dilakukan menggunakan pin prick/jarum (sensasi tajam) dan kapas (sensasi tumpul), untuk mengetahui adanya sensasi nyeri dari jarum dan sensasi halus dari kapas.
Hasil pengkajian pada pasien 1 dan 2 diperoleh data subyektif dan obyektif, keduanya mengalami kesemutan, kram, lemas/malaise, turgor kulit kering /bersisik, kaki pecah-pecah dan terdapat callus. Hal tersebut merupakan tanda dan gejala adanya gangguan pada perfusi jaringan perifer. Menurut Agustianingsih (2013), Diabetes Melitus dapat mempengaruhi tekanan aliran darah karena faktor viskositas akibat penumpukan gula darah. Kekentalan darah mengakibatkan aliran darah terganggu ke seluruh tubuh dan menyebabkan penurunan perfusi ke jaringan tubuh.
Pada pengelolan kasus tersebut penulis menentukan diagnosa keperawatan Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b/d Penurunan sirkulasi darah ke perifer. Hal ini disebabkan karena keduanya mengalami gangguan pada perfusi jaringan perifer ditandai dengan kesemutan dan kram (peredaran darah tidak lancar pada ekstremitas), dan sering merasa lemas atau malaise, dan pada bagian ektremitas bawah turgor kulit kering/bersisik, tampak bercallus, dan pecah-pecah. Namun terdapat perbedaan, pada pemeriksaan sensorik pasien 1 masih terdapat rangsangan nyeri dari jarum dan sensasi halus dari kapas, sedangkan pada pasien 2 tidak terdapat rangsangan nyeri dan sensasi halus dari kapas. Hal ini disebabkan karena pasien 2 sudah terjadi neuropati ditandai dengan rasa kebas, CRT >3 dtk, dan terdapat lesi pada kaki yang tidak disadari.
Untuk mengatasi gangguan perfusi jaringan perifer penulis melakukan beberapa tindakan yaitu dengan memantau adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap rangsangan nyeri/tajam dan tumpul/ halus, mengobservasi tanda-tanda vital dan pantau GDS, menganjurkan klien untuk melakukan perawatan kaki dengan menggunakan lotion atau oil agar kulit tidak kering, melakukan manajemen nyeri dengan masase kaki, dan berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian insulin. Kemudian terdapat intervensi tambahan yaitu mengajarkan klien untuk melakukan latihan fisik dengan ROM aktif atau senam kaki, dan Memberikan pengetahuan tentang diit pada klien dan keluarga,
Menurut Alviani (2015), masase kaki/pijat refleksi bertujuan untuk memperbaiki fungsi dari sistem tubuh serta dapat menyembuhkan dirinya sendiri yang sedang sakit, karena tubuh sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Pada tindakan latihan fisik dengan ROM, Intervensi  tersebut pernah diteliti salah satunya yaitu dengan melakukan pergerakan pada beberapa bagian sendi ekstremitas bawah seperti plantar fleksi, dorsofleksi dilakukan sebanyak dua kali sehari dalam seminggu dapat meningkatkan aliran darah ke arteri dan berefek positif pada metabolisme glukosa, dimana terjadinya penurunan  glukosa dan HbA1c (Sanchez, Pen˜arrocha, Castanys, Sola, Labraca, &  Lorenzo, 2013). Sedangkan pada tindakan senam kaki dianjurkan untuk pasien DM karena senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah, memperkuat otot-otot kecil kaki, mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki yang dapat meningkatkan potensi luka diabetik di kaki, dan meningkatkan produksi insulin yang dipakai dalam transport glukosa ke sel sehingga membantu menurunkan glukosa dalam darah (Sumarni & Sundari, 2012 dalam Mangiwa, Katuk, Sumarauw, 2017).
                Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pasien menunjukkan perubahan status perfusi jaringan yang baik ditandai dengan pasien sudah tidak kesemutan dan kram lagi, turgor kulit lembab, dan nyeri ekstremitas teratasi.
                Kedua pasien dilakukan tindakan yang sama, namun terdapat perbedaan respon pada pasien 1 tindakan pemberian insulin novorapid 12 ui 3x1, kadar gula darah pasien berangsur membaik setiap harinya, dan tindakan masase kaki efektif dalam mengatasi nyeri pada tungkai kaki, rasa kesemutan dan kram pada pasien. Sedangkan pada pasien 2 dilakukan pemberian insulin  Levemir 10 ui 1x1 namun kadar gula darah tetap tinggi dan cenderung naik setiap harinya sehingga diberikan tambahan dosis insulin yaitu Levemir 22 ui 1x1, dan tindakan masase kaki tidak memberikan efek perubahan pada pasien, hal tersebut dapat dipengaruhi karena usia, kepatuhan diit, dan tingkat keparahan penyakit. Sehingga pada pasien 2  perlu dilakukan tindakan edukasi dalam manajemen diit agar kadar gula darah dapat terkontrol dengan baik.
Evaluasi keperawatan yang dilakukan selama 3 hari pada pasien 1 pada tanggal 18 Maret 2019, diperoleh S : Klien mengatakan sudah tidak kesemutan dan kram lagi, Klien mengatakan sudah tidak lemas lagi, O : KU baik, kesadaran composmentis, CRT <3 dtk, tanda-tanda vital TD : 110/70 mm/Hg, Suhu : 36,5ºC, Nadi : 80x/mnt, RR : 22x/mnt, GDS 203 mg/dl, A : Masalah teratasi, P : Hentikan intervensi. Evaluasi hari ketiga menunjukkan bahwa pasien 1 dinyatakan sembuh dan masalah dapat teratasi ditandai dengan kadar gula darah yang normal, CRT <3 dtk, dan tanda-tanda vital dalam rentang normal.
Sedangkan pada pasien 2 evaluasi keperawatan dilakukan selama 3 hari pada tanggal 25 Maret 2019, diperoleh S: Klien mengatakan kaki sudah tidak kesemutan dan kram lagi namun masih kebas, O : tidak berespon saat dilakukan pemeriksaan rangsangan sensorik, CRT >3 dtk, TD : 140/80 mmHg, suhu 36,5ºC, nadi 80x/mnt, RR 20x/mnt, GDS 271 mg/dl, A : Masalah teratasi sebagian, P : Intervensi dihentikan. Evaluasi keperawatan pada hari ketiga menunjukkan bahwa pasien 2 dinyatakan belum sembuh dan masalah belum teratasi ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi, kaki yang kebas, tidak terdapat rangsangan sensorik, dan CRT >3 dtk.
SIMPULAN
SARAN
1.       Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan pendidikan yang lebih berkualitas dan profesional sehingga dapat tercipta tenaga kesehatan yang profesional, terampil dan bermutu yang mampu memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif.
2.       Bagi Pelayanan Kesehatan
Diharapkan dapat menjadi masukan bagi tenaga medis di rumah sakit dalam melakukan asuhan keperawatan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan yang lebih baik khususnya pada Pengelolaan Keperawatan Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer Pada Diabetes Melitus.
3.       Bagi Ilmu Pengetahuan
Diharapkan dapat memberikan sumbangsih terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang keperawatan untuk diteruskan kepada generasi berikutnya.

UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kepada Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang atas dukungan dana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan penelitian ini, Ketua Program Studi Diploma III Keperawatan Semarang, Pembimbing yang  dengan cermat memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya Karya tulis ilmiah ini, dosen penguji yang memberikan masukan serta mengarahkan penulis pada penyusun Karya Tulis Ilmiah, Seluruh Dosen dan Staf Poltekes Kemenkes Prodi Tegal yang telah memberikan bimbingan dan wawasan serta ilmu yang bermanfaat, Orang tua Bapak dan ibu saya yang tercinta yang selalu ikhlas memberikan kasih sayang dukungan secara moril maupun material, memberikan semangat, doa dengan penuh kesabaran demi kelancaran, kemudahan, dan kesuksesan untuk menyelesaikan pendidikan

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Zaidin. (2016). Dasar-Dasar Dokumentasi Keperawatan. Jakarta : EGC.
Baradero, Mary., Dayrit, Mary Wilfrid., &Siswadi, Yakobus. (2009). Klien Gangguan Endokrin:Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
Banuarli. (2010). 5 strategi penderita diabetes melitus berusia panjang. Yoyakarta: KANISIUS.
Darliana, Devi. (2011). Manajemen Asuhan Keperawatan Pada Pasien Diabetes Melitus. 2(2). 132-136.
Gupitasari, Virna., Widodo, Sri., Mustofa, Akhmad. (2018).Pengaruh Pijat Refleksi Kaki Terhadap Kadar Gula Darah pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Rsud Ungaran. Artikel Publikasi. Semarang : Program Studi S1 Keperawatan, Universitas Muhammadiyah.
Hestiana, Dita Wahyu. (2017) . Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Kepatuhan Dalam Pengelolaan Diet pada Pasien Rawat Jalan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Kota Semarang. 2(2). 138-145.
Hijriana, Isni., Suza, Dewi E., Ariani, Yesi. (2016). Pengaruh Latihan Pergerakan Sendi Ekstremitas Bawah Terhadap Nilai Ankle Brachial Index (ABI) pada Pasien Dm Tipe 2. 7(2). 32-39.
Lathifah, Nurlailatul. (2017). Hubungan Durasi Penyakit Dan Kadar Gula Darah Dengan Keluhan Subyektif Penderita Diabetes Melitus. 5 (2). 231-139.
Mangiwa, Inartry., Katuk, Mario E., Sumarauw, Lando. (2017). Jurnal Pengaruh Senam Kaki Diabetes Terhadap Nilai Ankle Brachial Index Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe Ii Di Rumah Sakit Pacaran Kasih Gmim Manado. 5(2). 1-10.
Nurarif, Amin Huda., Kusuma, Hardhi. (2015). Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &Nanda Nic-Noc jilid 1. Yogakarta : Mediaction.
Rahayul, E.T., Arjana. A.Z.,Juwariyah., et al. (2017). Profil Koagulasi Pasien Penderita Diabetes Mellitus Di Rs X, Kebumen, Jawa Tengah. 9 (1). 44-49.
Rosyida, Khana. (2016). Gambaran Neuropati Perifer Pada Diabetisi Di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungmundu Semarang. Skripsi dipublikasikan. Semarang : Jurusan Keperawatan, Fakultas Kedokteran  Universitas Diponegoro.
Sari, Ni Putu Wulan Purnama. (2017).Nursing Agency Untuk Meningkatkan Kepatuhan, Self-Care Agency (Sca) Dan Aktivitas Perawatan Diri Pada Penderita Diabetes Mellitus (Dm). 5 (1).  77-95.
Siyoto, Sandu., Sodik, Ali. (2015). Dasar Metodologi Penelitan. Yogyakarta : Literasi Media Publishing.
Sumantri, Arif. (2015). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Suciani,Tiara., Nuraini, Tuti. (2017). Kemampuan Spiritualitas dan Tingkat Stres Pasien Diabetes Mellitus di Rumah Perawatan: Studi Pendahuluan. 20 (2). 102-109.
Wibisana, Elang.,Sofiani, Yani. (2017). Pengaruh Senam Kaki Terhadap Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Melitus  di Rsu Serang Provinsi Banten Tahun 2014. Vol 2. 107-11.

No comments:

Post a Comment