PENGELOLAAN
KEPERAWATAN KETIDAKEFEKTIFAN PERFUSI JARINGAN PERIFER DENGAN DIABETES MELITUS
DI RSUD KARDINAH TEGAL
Eka Alfinita M*)
; Tinah Purwaningsih ; Fatchurrozak
Jurusan Keperawatan ; Poltekkes Kemenkes Semarang
Jl.Tirto Agung ; Pedalangan ; Banyumanik ; Semarang
Abstrak
Diabetes merupakan suatu penyakit degeneratif dan salah satu
penyakit tidak menular dengan jumlah pasien yang meningkat setiap tahunnya dan
50% penderita diabetes diantaranya mengalami gangguan perfusi jaringan, yaitu
kondisi apabila terjadi resistensi insulin akibat dari kurangnya aktivitas
fisik sehingga sirkulasi darah perifer terganggu.
Penelitian ini
bertujuan untuk menggambarkan pengelolaan keperawatan ketidakefektifan perfusi
jaringan perifer pada pasien dengan Diabetes Melitus di RSUD Kardinah Tegal.
Rancangan
penelitan yang digunakan adalah studi kasus dengan metoda penulisan deskriptif.
Teknik pengambilan partisipan dilakukan dengan cara convenience sampling method (nonprobability
sampling technique), dimana subjek dipilih karena kemudahan / keinginan
penulis.
Hasil dari pengelolaan selama 3 hari didapatkan kedua pasien
mengalamimasalah keperawatan Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer b/d
Penurunan Sirkulasi Darah ke Perifer ditandai dengan kesemutan, kram, merasa
lemas, bagian ektremitas bawah turgor kulit kering/bersisik, tampak bercallus,
dan pecah-pecah. Setelah dilakukan evaluasi selama 3 hari diperoleh hasil,
padapasien 1 masalah sudah teratasi ditandai dengan kadar gula darah normal, CRT <3 detik, dan vital sign
normal. Sedangkan pada pasien 2 masalah belum teratasi ditandai dengan kadar
gula darah tinggi, kebas, tidak terdapat rangsangan sensorik, dan CRT >3
detik.
Kata kunci :
Diabetes Melitus, Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer
MANAGEMENT OF
NURSING INEFFECTIVE PERFUSION OF THE PERIPHERAL TISSUE WITH DIABETES MELITUS IN
KARDINAH TEGAL HOSPITAL
Abstract
Diabetes is a degenerative disease and one
not communicable disease with the number of patients that is increasing each
year and 50% of all diabetes sufferers have a tissue perfusion disorder, a
condition in which insulin resistance occurs from lack of physical activity to obstruct peripheral
blood circulation.
This research aims to describing
management of nursing inefective perfusion of the peripheral tissue on a
patient with diabetes melitus at RSUD Kardinah Tegal
Research design used descriptive
method. Technique in participant taking used convenience sampling method
(non-probability sampling technique) that was chosen by the researcher, because
of convenience and the desire of the researcher.
The result of the study during three
days, it can be seen that both patients increase nursing problem ineffective
perfusion of the peripheral tissue a/w decrease in blood circulation to the
peripheral. It was marked with tingling, cramps, feeling suffocation, element
sunder the dried leather turgor, appear to be callus, and cracked. After the
evaluation during three days, the result about first patient’s problem had
beensolved by normal blood sugar levels, CRT <3 second and vital sign was
normal. Where as on second patient’s problem remained unresolved with high
blood sugar, abrasions, nosensorystimulation, and CRT >3 second.
Keywords: Diabetes melitus, ineffective
perfusion of the peripheral tissue
PENDAHULUAN
Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu
penyakit degeneratif dan salah satu penyakit tidak menular dengan jumlah pasien
yang meningkat. Berdasarkan data Internasional Diabetes Federation (IDF) (2015)
terdapat 415 juta penduduk di dunia yang menyandang DM dan diprediksi tahun
2040 mendatang akan meningkat menjadi
642 juta jiwa atau 55% dari jumlah penduduk di dunia tahun 2015. Sedangkan
prevelensi DM tahun 2015 di Indonesia yaitu sekitar 10 juta jiwa sehingga dari
hasil survey tersebut menempatkan Indonesia berada di peringkat ke-7 dari 10
negara dengan penyandang DM terbesar diseluruh dunia.
Prevalensi untuk Provinsi Jawa Tengah
sebesar (1,9%) (Kemenkes RI, 2014). Jumlah kasus DM tipe 2 di Jawa Tengah tahun
2015 sebanyak 99.646 kasus. Hal ini berbeda dengan tiga tahun sebelumnya. Pada
tahun 2014 kasus diabetes melitus tipe 2 sebanyak 96.431 kasus (0,29%). Pada
tahun 2013 kasus diabetes mellitus tipe 2 di Jawa Tengah yaitu sebesar 142.925
(0,43%) kasus, sedangkan pada tahun 2012 sebesar 181.543 (0,55%) kasus.
Dari keseluruhan kasus DM Tipe 2 di
Kota Tegal, proporsi kasus terbesar (37,4%) berasal dari pasien RSUD Kardinah
Kota Tegal. DM Tipe 2 menjadi penyakit dengan jumlah kunjungan tertinggi selama
2012-2014 di RSUD Kardinah. Insiden kasus DM Tipe 2 juga meningkat 13,57% pada
tahun 2014 dibanding tahun sebelumnya.
Menurut LeMone, Karen & Gerene
(2016) komplikasi dari DM dapat mengakibatkan perubahan pada sistem saraf
perifer. Hal itu dapat terjadi perubahan
vaskular di ekstremitas bawah pada penyandang DM yang dapat mengakibatkan
terjadinya arterosklerosis sehingga terjadi komplikasi yang mengenai kaki yang
menyebabkan tingginya insidensi amputasi pada pasien DM.
Penurunan suplai darah ditandai dengan
terjadinya hipoksia jaringan, dimana kondisi jaringan kekurangan oksigen pada
jaringan vaskuler dan seluler (Arwani, 2014). Keterbatasan jumlah insulin pada
DM mengakibatkan kadar gula dalam darah meningkat, hal ini menyebabkan rusaknya
pembuluh darah, saraf, dan struktur internal lainnya sehingga pasokan darah
perifer (kaki dan tangan) semakin terhambat, akibatnya pasien DM akan mengalami
gangguan sirkulasi darah pada kaki (Nasution, 2010).
Perfusi yang baik ditandai dengan
adanya waktu pengisian kapiler (capillary refill time/CRT) dan juga didukung
saturasi oksigen yang normal (Nuh, 2010). Kerusakan pada saraf perifer yang
mengakibatkan gejala kesemutan, mati rasa, atau kelemahan, pada kaki dan
tangan, yang menjangkit sampai dengan 50% dari penderita DM tipe 2 (AMERICAN
Diabetes association, 2013 dalam (Harmaya, Sukawana, & Lestari 2014)).
Kondisi ini disebabkan karena terjadinya resistensi insulin akibat dari
kurangnya aktivitas fisik sehingga sirkulasi darah perifer terganggu (Fatimah, 2015).
Masalah ketidakefektifan perfusi
jaringan perifer dapat diatasi dengan terapi farmakologis dan terapi non
farmakologis. Pengelolaan terapi farmakologis yaitu pemberian insulin dan obat
hipoglikemik oral. Sedangkan non farmakologis meliputi pengendalian berat
badan, diet, dan latihan jasmani.
Dari uraian tersebut, maka penulis
tertarik untuk melakukan Pengelolaan Keperawatan Ketidakefektifan Perfusi
Jaringan Perifer pada pasien dengan Diabetes Melitus di Ruang Lavender Atas
Wanita RSUD Kardinah Kota Tegal.
Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengkajian, diagnosa,
intervensi, implementasi, evaluasi asuhan keperawatan pada kedua klien diabetes melitus dengan masalah
keperawatan Ketidakefektifan Perfusi
Jaringan Perifer.
METODE
PENELITIAN
Pengambilan
kasus ini menggunakan rancangan studi kasus dengan metode penelitian deskriptif.
Subyek penelitian adalah pasien Diabetes Melitus dengan masalah
Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer yang dirawat di ruang Lavender Atas Wanita RSUD Kardinah Tegal. Pengkajian
dilakukan pada 2 pasien yang sudah menyetujui untuk dilakukan studi kasus. Teknik pengambilan pasien dilakukan dengan cara convenience sampling method (nonprobability sampling technique)
dimana subjek dipilih karena kemudahan keinginan penulis. Pengambilan data
dilakukan dengan wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi asuhan
keperawatan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Penelitian
Studi kasus dilakukan di Ruang Lavender
Atas Wanita bagian ruang penyakit dalam RSUD Kardinah Kota Tegal berlokasi di
jalan KS Tubun No.4, Kejambon, Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah. Ruang
Lavender Atas Wanita merupakan pelayanan khusus kelas III, yang terdiri dari 3
ruangan setiap ruangan terdiri dari 8 tempat tidur.
RSUD
Kardinah terdiri dari beberapa ruang rawat inap, yaitu ruang rawat intensif,
VVIP,VIP, kelas I, kelas II, dan kelas III. Selain itu RSUD Kardinah dilengkapi
dengan Instalasi Radiologi, Cateterisasi Jantung, MRI & CT-SCAN, Instalasi
Laboratorium, Instalasi Bank Darah, Instalasi HD, Instalasi Bedah Sentral,
CSSD, Apotek, Kantin.
Pengkajian dilakukan berdasarkan dua unsur yaitu secara subjektif dan
objektif. Pengkajian subjektif dilakukan untuk mengetahui identitas, riwayat kesehatan,
dan pola fungsi kesehatan pada partisipan. Sedangkan pengkajian objektif berupa
pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik, dan pemeriksaan penunjang lainnya.
Pada pengkajian perfusi jaringan perifer dilakukan
dengan pemeriksaan fungsi neurologis yang meliputi pemeriksaan fungsi saraf
otonom dan sensorik yang dilakukan baik melalui inspeksi maupun pemeriksaan
fisik. Pada pemeriksaan fungsi saraf otonom
dilakukan dengan inspeksi pada kaki untuk melihat adanya kulit kering (bersisik), kulit kaki pecah-pecah,
callus, dan deformitas. Pada
pemeriksaan fungsi sensorik dilakukan
menggunakan pin prick/jarum (sensasi tajam) dan kapas (sensasi tumpul), untuk
mengetahui adanya sensasi nyeri dari jarum dan sensasi halus dari kapas.
Hasil pengkajian pada pasien 1 dan 2 diperoleh data subyektif dan obyektif, keduanya mengalami kesemutan, kram,
lemas/malaise, turgor kulit kering /bersisik, kaki pecah-pecah dan terdapat
callus. Hal tersebut merupakan tanda dan gejala adanya gangguan pada perfusi
jaringan perifer. Menurut Agustianingsih (2013), Diabetes Melitus dapat
mempengaruhi tekanan aliran darah karena faktor viskositas akibat penumpukan
gula darah. Kekentalan darah mengakibatkan aliran darah terganggu ke seluruh
tubuh dan menyebabkan penurunan perfusi ke jaringan tubuh.
Pada pengelolan kasus tersebut penulis
menentukan diagnosa keperawatan Ketidakefektifan
perfusi jaringan perifer b/d Penurunan sirkulasi darah ke perifer. Hal ini
disebabkan karena keduanya mengalami gangguan pada perfusi jaringan perifer
ditandai dengan kesemutan dan kram (peredaran darah tidak lancar pada
ekstremitas), dan sering merasa lemas atau malaise, dan pada bagian ektremitas
bawah turgor kulit kering/bersisik, tampak bercallus, dan pecah-pecah. Namun
terdapat perbedaan, pada pemeriksaan sensorik pasien 1 masih terdapat rangsangan nyeri dari jarum dan sensasi halus
dari kapas, sedangkan pada pasien 2 tidak terdapat rangsangan nyeri dan sensasi
halus dari kapas. Hal ini disebabkan karena pasien 2 sudah terjadi neuropati
ditandai dengan rasa kebas, CRT >3 dtk, dan terdapat lesi pada kaki yang
tidak disadari.
Untuk mengatasi gangguan
perfusi jaringan perifer penulis melakukan beberapa tindakan yaitu dengan memantau adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap rangsangan
nyeri/tajam dan tumpul/ halus, mengobservasi tanda-tanda vital dan pantau GDS, menganjurkan
klien untuk melakukan perawatan kaki dengan menggunakan lotion atau oil agar
kulit tidak kering, melakukan manajemen
nyeri dengan masase kaki, dan berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian insulin. Kemudian terdapat intervensi tambahan
yaitu mengajarkan klien untuk
melakukan latihan fisik dengan ROM aktif atau senam kaki, dan Memberikan pengetahuan tentang diit pada
klien dan keluarga,
Menurut Alviani
(2015), masase kaki/pijat refleksi bertujuan untuk memperbaiki fungsi dari
sistem tubuh serta dapat menyembuhkan dirinya sendiri yang sedang sakit, karena
tubuh sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Pada
tindakan latihan fisik dengan ROM, Intervensi
tersebut pernah diteliti salah satunya yaitu dengan melakukan pergerakan
pada beberapa bagian sendi ekstremitas bawah seperti plantar fleksi,
dorsofleksi dilakukan sebanyak dua kali sehari dalam seminggu dapat
meningkatkan aliran darah ke arteri dan berefek positif pada metabolisme
glukosa, dimana terjadinya penurunan
glukosa dan HbA1c (Sanchez, Pen˜arrocha, Castanys, Sola, Labraca, & Lorenzo, 2013). Sedangkan pada tindakan senam
kaki dianjurkan untuk pasien DM karena senam kaki dapat membantu memperbaiki
sirkulasi darah, memperkuat otot-otot kecil kaki, mencegah terjadinya kelainan
bentuk kaki yang dapat meningkatkan potensi luka diabetik di kaki, dan
meningkatkan produksi insulin yang dipakai dalam transport glukosa ke sel
sehingga membantu menurunkan glukosa dalam darah (Sumarni & Sundari, 2012
dalam Mangiwa, Katuk, Sumarauw, 2017).
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x24 jam pasien menunjukkan perubahan status perfusi
jaringan yang baik ditandai dengan pasien sudah tidak kesemutan dan kram lagi,
turgor kulit lembab, dan nyeri ekstremitas teratasi.
Kedua
pasien dilakukan tindakan yang sama, namun terdapat perbedaan respon pada pasien 1 tindakan pemberian insulin
novorapid 12 ui 3x1, kadar gula darah pasien berangsur membaik setiap harinya,
dan tindakan masase kaki efektif dalam mengatasi nyeri pada tungkai kaki, rasa
kesemutan dan kram pada pasien. Sedangkan pada pasien 2 dilakukan pemberian
insulin Levemir 10 ui 1x1 namun kadar
gula darah tetap tinggi dan cenderung naik setiap harinya sehingga diberikan
tambahan dosis insulin yaitu Levemir 22 ui 1x1, dan tindakan masase kaki tidak
memberikan efek perubahan pada pasien, hal tersebut dapat dipengaruhi karena
usia, kepatuhan diit, dan tingkat keparahan penyakit. Sehingga pada pasien
2 perlu dilakukan tindakan edukasi dalam
manajemen diit agar kadar gula darah dapat terkontrol dengan baik.
Evaluasi
keperawatan yang dilakukan selama 3 hari pada pasien 1 pada tanggal 18 Maret 2019, diperoleh S : Klien
mengatakan sudah tidak kesemutan dan kram lagi, Klien mengatakan sudah tidak
lemas lagi, O : KU baik, kesadaran composmentis, CRT <3 dtk, tanda-tanda
vital TD : 110/70 mm/Hg, Suhu : 36,5ºC, Nadi : 80x/mnt, RR : 22x/mnt, GDS 203
mg/dl, A : Masalah teratasi, P : Hentikan intervensi. Evaluasi hari ketiga
menunjukkan bahwa pasien 1 dinyatakan sembuh dan masalah dapat teratasi
ditandai dengan kadar gula darah yang normal, CRT <3 dtk, dan tanda-tanda
vital dalam rentang normal.
Sedangkan
pada pasien 2 evaluasi
keperawatan dilakukan selama 3 hari pada tanggal 25 Maret 2019, diperoleh S:
Klien mengatakan kaki sudah tidak kesemutan dan kram lagi namun masih kebas, O
: tidak berespon saat dilakukan pemeriksaan rangsangan sensorik, CRT >3 dtk,
TD : 140/80 mmHg, suhu 36,5ºC, nadi 80x/mnt, RR 20x/mnt, GDS 271 mg/dl, A :
Masalah teratasi sebagian, P : Intervensi dihentikan. Evaluasi keperawatan pada
hari ketiga menunjukkan bahwa pasien 2
dinyatakan belum sembuh dan masalah belum teratasi ditandai dengan kadar gula
darah yang tinggi, kaki yang kebas, tidak terdapat rangsangan sensorik, dan CRT
>3 dtk.
SIMPULAN
Dari pengelolaan yang sudah penulis
lakukan maka dapat diperoleh kesimpulan, bahwa masalah Ketidakefektifan Perfusi
Jaringan Perifer pada Diabetes Melitus dapat ditandai dengan perubahan
karakteristik kulit (warna, elastisitas, rambut, kelembapan kuku, sensasi,
suhu), klaudikasi (nyeri pada ekstremitas), waktu pengisian kapiler >3 dtk,
kelambatan penyembuhan luka perifer, dan parastesia. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jami kedua
klien dilakukan evaluasi setiap harinya. Maka, diperoleh hasil pada hari ke-3 pasien 1 masalah sudah teratasi
ditandai dengan kadar gula darah yang normal, CRT <3 dtk, dan tanda-tanda
vital dalam rentang normal. Sedangkan pada pasien 2 masalah belum teratasi ditandai dengan kadar gula darah
yang tinggi, kaki yang kebas, tidak terdapat rangsangan sensorik, dan CRT >3
dtk.
SARAN
1.
Bagi
Institusi Pendidikan
Diharapkan
dapat meningkatkan mutu pelayanan pendidikan yang lebih berkualitas dan
profesional sehingga dapat tercipta tenaga kesehatan yang profesional, terampil
dan bermutu yang mampu memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif.
2.
Bagi
Pelayanan Kesehatan
Diharapkan
dapat menjadi masukan bagi tenaga medis di rumah sakit dalam melakukan asuhan
keperawatan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan yang lebih baik khususnya
pada Pengelolaan Keperawatan Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer Pada
Diabetes Melitus.
3.
Bagi
Ilmu Pengetahuan
Diharapkan
dapat memberikan sumbangsih terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang
keperawatan untuk diteruskan kepada generasi berikutnya.
UCAPAN
TERIMA KASIH
Terima kasih kepada Direktur Politeknik
Kesehatan Kemenkes Semarang atas dukungan dana yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan penelitian ini, Ketua Program Studi Diploma III Keperawatan
Semarang, Pembimbing yang dengan cermat
memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta
memfasilitasi demi sempurnanya Karya tulis ilmiah ini, dosen penguji yang
memberikan masukan serta mengarahkan penulis pada penyusun Karya Tulis Ilmiah,
Seluruh Dosen dan Staf Poltekes Kemenkes Prodi Tegal yang telah memberikan
bimbingan dan wawasan serta ilmu yang bermanfaat, Orang tua Bapak dan ibu saya
yang tercinta yang selalu ikhlas memberikan kasih sayang dukungan secara moril
maupun material, memberikan semangat, doa dengan penuh kesabaran demi
kelancaran, kemudahan, dan kesuksesan untuk menyelesaikan pendidikan
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Zaidin.
(2016). Dasar-Dasar Dokumentasi
Keperawatan. Jakarta : EGC.
Baradero, Mary., Dayrit, Mary Wilfrid., &Siswadi,
Yakobus. (2009). Klien Gangguan
Endokrin:Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
Banuarli. (2010). 5
strategi penderita diabetes melitus berusia panjang. Yoyakarta: KANISIUS.
Darliana, Devi. (2011). Manajemen
Asuhan Keperawatan Pada Pasien Diabetes Melitus. 2(2). 132-136.
Gupitasari, Virna., Widodo, Sri., Mustofa, Akhmad. (2018).Pengaruh Pijat Refleksi Kaki Terhadap Kadar
Gula Darah pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Rsud Ungaran. Artikel
Publikasi. Semarang : Program Studi S1 Keperawatan, Universitas Muhammadiyah.
Hestiana, Dita Wahyu. (2017) . Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Kepatuhan Dalam Pengelolaan
Diet pada Pasien Rawat Jalan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Kota Semarang. 2(2). 138-145.
Hijriana, Isni., Suza, Dewi E., Ariani, Yesi. (2016). Pengaruh Latihan Pergerakan Sendi
Ekstremitas Bawah Terhadap Nilai Ankle Brachial Index (ABI) pada Pasien Dm Tipe
2. 7(2). 32-39.
Lathifah, Nurlailatul. (2017). Hubungan Durasi Penyakit Dan Kadar Gula Darah Dengan Keluhan Subyektif
Penderita Diabetes Melitus. 5 (2). 231-139.
Mangiwa, Inartry., Katuk, Mario E., Sumarauw, Lando. (2017).
Jurnal Pengaruh Senam Kaki Diabetes
Terhadap Nilai Ankle Brachial Index Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe Ii Di
Rumah Sakit Pacaran Kasih Gmim Manado. 5(2). 1-10.
Nurarif, Amin Huda., Kusuma, Hardhi. (2015). Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis &Nanda Nic-Noc jilid 1. Yogakarta : Mediaction.
Rahayul, E.T., Arjana. A.Z.,Juwariyah., et al. (2017). Profil Koagulasi Pasien Penderita Diabetes
Mellitus Di Rs X, Kebumen, Jawa Tengah. 9 (1). 44-49.
Rosyida, Khana. (2016). Gambaran
Neuropati Perifer Pada Diabetisi Di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungmundu
Semarang. Skripsi dipublikasikan. Semarang : Jurusan Keperawatan, Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro.
Sari, Ni Putu Wulan Purnama. (2017).Nursing Agency Untuk Meningkatkan Kepatuhan, Self-Care Agency (Sca) Dan
Aktivitas Perawatan Diri Pada Penderita Diabetes Mellitus (Dm). 5 (1). 77-95.
Siyoto, Sandu., Sodik, Ali. (2015). Dasar Metodologi Penelitan. Yogyakarta : Literasi Media Publishing.
Sumantri, Arif. (2015). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta :
Kencana Prenada Media Group.
Suciani,Tiara., Nuraini, Tuti. (2017). Kemampuan Spiritualitas dan Tingkat Stres Pasien Diabetes Mellitus di
Rumah Perawatan: Studi Pendahuluan. 20 (2). 102-109.
Wibisana, Elang.,Sofiani, Yani. (2017). Pengaruh Senam Kaki Terhadap Kadar Gula Darah Pasien Diabetes
Melitus di Rsu Serang Provinsi Banten
Tahun 2014. Vol 2. 107-11.